Malam tadi saya menunggu anak yang
turun dari angkot di terminal Dago. Saya tunggu sampai 15 menit belum juga
datang, sedangkan battery HP sudah hampir habis. Maklum, nunggunya sambil WA-an.
Akhirnya saya putuskan masuk warung sate ayam. Pesan sate bukan karena lapar
namun supaya bisa numpang mengisi battery HP.
Tengah makan sate datanglah anak
saya. Saya ajak dia makan karena sate yang 10 tusuk itu baru saya makan 3 tusuk
saja. “Nih ikut makan, ditambul juga gakpapa”, kata saya. 'Ditambul' itu dimakan
tanpa nasi, bahasa Jawa-nya 'digado'.
“Enggak ah! Abi kan nggak pernah
bener makannya”, kata anak saya.
