Rabu, 10 April 2019

MUDAH TAPI JANGAN DIPERMUDAH, SULIT TAPI JANGAN DIPERSULIT


Istilah ini saya dapat dari almarhum KH. AR. Fachruddin, ketua PP Muhammadiyah terlama, dalam bahasa Jawa. “Islam kuwi gampang ning ojo digampangke. Angel ning ojo di ngel-ngel”. Dalam hal fiqh banyak sekali perbedaan karena fiqh adalah ijtihad ulama. Misalkan posisi tangan saat berdiri shalat: ada yang sedekap, ada yang dijulurkan ke bawah saja. Yang sedekap pun, ada yang didahului dengan mengangkat tangan, ada yang tanpa harus mengangkat tangan.

Kalau dirunut, semuanya ada pedomannya, di Al Quran dan/atau hadits. Terjadi perbedaan dalam praktek karena adanya fiqh ulama yang menguraikan sesuai kondisi setempat. Misalkan qurban di Saudi Arabia adalah unta, di Indonesia boleh dilakukan dengan sapi atau domba.

Jumat, 14 Desember 2018

GENERASI CEPAT TUA DAN AWET TUA


Generasi saya adalah generasi cepat tua. Tumbuh dan dewasa disaat pembangunan sedang digencarkan, hingga ada gelar “Bapak Pembangunan” bagi Presiden Soeharto. Mencurahkan perhatian pada satu bidang, khusyu’, hingga tiba-tiba sekarang merasa harus pensiun. Saat ini banyak yang sedang berfikir mengerjakan apa saat pensiun nanti.

Disisi lain terasa fisik mulai melemah, berbagai penyakit menggerogoti tubuh, rambut semuanya memutih. Teman-teman seangkatan banyak yang keluar masuk ruang praktek dokter untuk konsultasi kesehatan, bahkan ada beberapa yang sudah mendahului menghaap Sang Pencipta. Inilah generasi yang cepat tua dan (maaf) juga cepat mati.

Sabtu, 09 Juni 2018

PONPES BABUSSALAM ‘BENTENG’ UMMAT ISLAM DI BANDUNG UTARA

Kota Bandung nampak indah dipandang dari perbukitan Ciburial, dimana Ponpes Babussalam berada.

Memasuki Bandung dari pintu tol Pasteur, naik jalan layang Pasupati, kemudian belok kiri menyusuri Jl. Ir. H. Juanda, akan membawa kita sampai Pondok Pesantren (Ponpes) Al Quran Babussalam di Ciburial Dago Atas. Bagi yang baru pertama kali berkunjung pastilah akan menjadi sebuah pengalaman berharga dan tidak terlupakan. Kota Bandung dengan ketinggian 791 meter dpl saja sudah meniupkan udara dingin, apalagi kawasan Babussalam yang berketinggian 1.100 meter dpl tentu membuat menggigil.
Namun tak perlu khawatir, ditengah suasana sejuk dingin itu justru terasa nikmat untuk menyerap kedalaman dan luasnya ilmu-ilmu yang disampaikan oleh Pengasuh Pesantren KH. Drs. Muchtar Adam dan para ustadz Babussalam. Apalagi sambil menyantap hidangan tahu hangat produksi masyarakat sekitar Babussalam. “Nikmat Allah yang mana lagi yang engkau dustakan”, meminjam istilah yang Allah ulang-ulang dalam QS. Ar Rahman.
Jika dihitung dari pintu tol Pasteur, perjalanan menuju Babussalam berjarak sekitar 11-12 km. Selepas dari batas kota Bandung jalan menanjak dan berkelok-kelok khas pegunungan sejauh 4 km. Kita akan disuguhi pemandangan menarik. Memandang ke belakang terlihat bangunan rumah-rumah di kota Bandung yang nampak mengecil. Udara dingin mulai merasuk, retsleting jacket harus dieratkan dan kedua belah tangan dimasukkan kedalam saku jacket.

Minggu, 09 Oktober 2016

CARA ALLAH MEMBAGI RIZQI



Pagi itu saya dari Jogja hendak ke Kutoarjo dengan kereta Pramek pukul 06.30 Wib. Rencana dari Kutoarjo terus ke Bandung dengan kereta Kutojaya pukul 09.20.
Dari rumah pukul 05.00 diantar dengan motor oleh anak saya Zaki. Sengaja saya berangkat awal karena belum membeli tiket dan Zaki perlu waktu untuk persiapan sebelum ke sekolah.
Saya berangkat dengan tenang karena persiapan sejak bangun malam. Rasanya semuanya oke-oke saja. Ibu saya tinggalin sedikit uang, Zaki juga, bahkan khusus untuk isi bensin motor pagi itu.
Sepuluh menit dari rumah sampailah saya di stasiun Lempuyangan. Saya masih sempatkan memberikan pesan kepada Zaki sekitar 5 menit karena jadwal kereta masih lama. Setelah itu Zaki pulang meninggalkan saya.

Jumat, 02 September 2016

MENJADI SAKSI PERJUANGAN ANANDA OCI

Kami, yaitu saya dan umi, memberinya nama Raisa Rashifa Mahirah. Raisa kami ambil dari kata Roisun, pemimpin. Sedangkan Rashifa bermakna kuat, dan Mahirah bermakna mahir atau pandai. Sebuah perpaduan nama yang sangat bagus: pemimpin, kuat dan pandai. Nama pendeknya adalah Oci, dari kebiasaan teman-temannya memanggil Rosi.
Saya harus mengakui perkembangan fisik Oci terganggu dengan berbagai penyakit. Saat itu kami belum menjadi herbalis. Oci dengan kakak-kakaknya yaitu Muti dan Syifa boleh dikata saat itu rajin bolak-balik ke puskesmas. Tak heran fisik Oci cukup kecil dan sering sekali flu batuk. Namun rupanya Allah selalu menganugerahkan kekuatan menghadapi kondisi ini, sesuai dengan namanya.

Kamis, 25 Agustus 2016

LARANGAN MEROKOK DI BABUSSALAM

Salah satu “trade mark” Babussalam adalah larangan merokok. Ini bukan hal mudah, terlebih pada era tahun 80-an. Tak heran jika ada seorang kyai terkenal di Bandung menjadi menjaga jarak dengan Babussalam karena beliau salah seorang “ahli hisap”, bahkan anggota “Majelis Syuro”, syuka rokok!
Mengapa Babussalam mengkampanyekan anti-rokok? Tak lain karena termasuk pesan salah satu ayat yang menjadi semboyan pendirian Babussalam, yaitu QS. An Nisa’ [4]: 9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

Selasa, 02 Agustus 2016

JANGAN MEMUBAZIRKAN MAKANAN

Malam tadi saya menunggu anak yang turun dari angkot di terminal Dago. Saya tunggu sampai 15 menit belum juga datang, sedangkan battery HP sudah hampir habis. Maklum, nunggunya sambil WA-an. Akhirnya saya putuskan masuk warung sate ayam. Pesan sate bukan karena lapar namun supaya bisa numpang mengisi battery HP.
Tengah makan sate datanglah anak saya. Saya ajak dia makan karena sate yang 10 tusuk itu baru saya makan 3 tusuk saja. “Nih ikut makan, ditambul juga gakpapa”, kata saya. 'Ditambul' itu dimakan tanpa nasi, bahasa Jawa-nya 'digado'.
“Enggak ah! Abi kan nggak pernah bener makannya”, kata anak saya.