Rabu, 13 Januari 2016

SUKSES KARENA RIDLA ORANG TUA



Ada seorang kawan yang saat kuliah dulu sambil nyantri di sebuah pondok pesantren. Karena di pesantren tersebut masih kekurangan guru, jadilah ia juga membantu mengajar matematika di madrasahnya. Alhamdu lillah ia kemudian lulus kuliah, menjadi seorang sarjana bahkan diterima menjadi dosen di sebuah STIMIK swasta. Bukan suatu yang aneh karena peristiwa ini terjadi tahun 1992-1993 disaat seorang lulusan sarjana S1 dengan mudah bisa menjadi dosen.
Sejak menjadi dosen ia mengurangi jadwalnya di pesantren. Perjumpaan saya dengannya pun sedikit berkurang. Terlebih saat ia menyatakan meninggalkan pesantren karena diminta memegang jabatan struktural di perguruan tingginya. Sejak saat itu boleh dikatakan saya kehilangan kontak karena belum ada handphone, kendaraan masih sulit dll.

Selasa, 28 Juli 2015

S-O-P TEH CELUP



Saat makan di sebuah warung nasi sederhana, secara tidak sengaja saya mengamati cara pemilik warung tersebut menyajikan minuman teh, yaitu teh celup. Mulanya saya tidak memperhatikan. Namun selama saya makan satu per satu pelanggan lain masuk dan selalu ditanya, “Minumnya apa? Teh tawar, teh manis atau teh lemon?”. Selanjutnya pemilik warung akan membuat teh celup dan saya pun tertarik untuk memperhatikannya.
Dimulai dengan mengambil gelas dan mengisinya dengan air panas dari dispenser setinggi setengah gelas. Selanjutnya dia ambil seuncang teh celup dan dicelup-celupkan ke dalam air panas tadi. Mungkin 5-7 balikan dia mencelupkan uncang teh. Setelah itu uncang teh dia biarkan terendam dan tali uncang beserta label ia sampirkan di bibir gelas.

Minggu, 31 Mei 2015

‘SIHIR‘ JAM JADWAL SHALAT



Hari ini saya bertamu di rumah adik saya di Magelang, daerah sekitar Candi Borobudur. Di sebelah selatan rumahnya, terhalang sebuah gang, ada masjid kampung yang cukup besar sehingga suara adzan sangat jelas terdengar. Baru saja saya berjamaah shalat ashar di masjid tersebut.
Saat mendengar adzan ashar dikumandangkan, saya segera mengambil air wudhu dan berjalan menuju masjid yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah adik saya. Ketika menaiki tangga menuju masjid saya berpapasan dengan seseorang yang baru saja keluar dari masjid. Memasuki ruangan dalam masjid saya tertegun, ternyata tak seorang pun ada disana. Padahal adzan baru saja dikumandangkan. Berarti yang berpapasan dengan saya tadi adalah muadzinnya.

Sabtu, 02 Mei 2015

UMUR KEHIDUPAN YANG BEGITU SINGKAT



Foto Ilustrasi

Pekan lalu saya mengantar kepergian seorang tua, H. Agus usia 71 tahun, menghadap-Nya. Seperti tidak percaya saya mendengar berita kepergian beliau mengingat beliau dikenal orang yang sangat baik kepada siapa saja. Kesehatannya juga terjaga karena anak sulungnya seorang dokter. Kiprah beliau di bidang sosial tidak diragukan lagi, ditunjang oleh profesinya sebagai pengusaha sukses.
Beliau orang yang sangat luas pergaulannya. Sebagai businessman tentu beliau bergaul dengan pengusaha-pengusaha besar yang proyeknya berskala nasional dan nilainya ratusan milyar. Saat pertama kali mengenal beliau saya sempat terkejut. Yang beliau sebut kantor hanyalah pavilion kecil di halaman belakang rumah beliau dan dijaga oleh seorang tua. Tidak ada kemewahan, tidak ada juga seorang perempuan berbaju minim yang biasa disebut sekretaris.

Rabu, 20 Agustus 2014

KOTORAN DI BAJU PUTIH



Sutan Bhatoegana pernah mengatakan, “Karena PKS itu warnanya putih, maka ada sedikit kotoran saja sudah nampak”.
Ungkapan ini dia kemukakan menanggapi kasus korupsi yang menimpa Presiden PKS, yaitu LHI, yang dituduh menerima dugaan suap sebesar 1 M. Kasus ini kemudian bergulir menjadi bola salju yang semakin lama semakin membesar, menyeret banyak orang, diberitakan massmedia setiap saat, mencoreng nama partai, bahkan nama Islam karena PKS adalah partai berbasis Islam. Terakhir, boleh jadi menjadi penyebab turunnya suara PKS pada pemilu legislatif 2014 ini.

Minggu, 17 Agustus 2014

SEBUAH PERJALANAN DENGAN BANYAK KEBERUNTUNGAN



Anak saya enam orang, tiga orang di Bandung dan tiga orang lagi di Jogja. Yang di Jogja bahkan ada juga seorang menantu dan seorang cucu. Saya tanyakan pada mereka: mau lebaran dimana? Jawabannya: lebaran di Bandung, sehingga yang di Jogja semua menuju Bandung, alhamdu lillah kebagian tiket kereta api dengan harga promosi.
Karena semua anak berlebaran di Bandung, saya putuskan untuk pergi sendirian ke Jogja, berlebaran dengan ibu yang sendirian di rumah. Saya rancang perjalanan santai karena sendirian dan suasana mudik: mungkin harus menginap di terminal, mungkin harus tidur di masjid dll. Untuk mempercepat perjalanan, saya coba mencari tiket kereta api yang tidak pernah macet, kecuali terlambat sampai karena tambahan persilangan dengan kereta api lebaran.

Kamis, 12 Juni 2014

BERKAH TUKANG CUKUR



Saya punya langganan tukang cukur di sekitar Kebon Kelapa Bandung. Tahu nggak salah satu kebiasaan tukang cukur? Dia selalu mengajak ngobrol orang yang dicukurnya. Ngobrol apa saja, mulai dari sepakbola, politik hingga harga cabe. Hal ini dia lakukan agar konsumennya bersikap santai, tidak terburu-buru dan menikmati proses pencukuran rambutnya. Berbeda dengan aturan kendaraan umum yang melarang penumpangnya berbicara dengan sopir, seseorang yang dicukur justru wajib meladeni obrolan tukang cukur. Jika anda tipe orang pendiam, minimal tanggapi dengan ungkapan pendek: ya, oh begitu, saya baru tahu lho, dll. Jika orang yang sedang dicukur diam dan duduk manis, boleh jadi akan mengantuk dan tertidur karena keenakan.