Sabtu, 25 Januari 2020

RASULULLAH SEORANG PROBLEM SOLVER

Proses perakitan mobil adalah sebuah sistem yang rumit.

Pada suatu kesempatan rihlah (wisata, refreshing) bersama para sahabat di pinggiran Madinah terekam sebuah kejadian saat hendak dilakukan penyembelihan domba. Rasulullah mengabsen satu persatu sahabat. “Siapa yang akan menyembelih domba?”, tanya beliau.
“Saya, ya Rasulullah!”, kata seorang sahabat.
“Siapa yang akan menguliti?”, tanya Rasulullah lagi.
“Saya, ya Rasulullah!”, kata seorang sahabat yang lain.

Beliau bagi seluruh tugas sehingga setiap sahabat kebagian. Ada yang mendirikan tenda, ada yang membersihkan rumput di lokasi perkemahan, ada yang menyiapkan air, dst. Hingga beliau berucap dan bertanya pada diri sendiri, “Kalian semua sudah memiliki tugas masing-masing. Terus tugas saya apa?”

Rasulullah nampak berfikir sejenak dan kemudian berkata, “Ana jam’ul khathab. Saya bagian mencari kayu bakarnya!”
اَنَا جَمْعُ الْخَطَبِ
Saya mengumpulkan kayu”.

Jumat, 27 Desember 2019

LARANGAN MENCELA MAKANAN


Salah satu akhlaq terpuji (akhlaqul karimah) Rasulullah adalah beliau tidak pernah mencela makanan. Apabila beliau tidak suka dengan makanan yang dihidangkan maka beliau memilih diam. Bahkan jika di rumah tidak ada makanan, beliau memilih shaum (puasa) di hari itu.

Sebuah sabda Rasulullah menyebutkan: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Apabila makanan yang dihidangkan beliau sukai, maka beliau menyantapnya. Sedangkan sikap beliau saat menghadapai jamuan yang tidak menarik hati, beliau tidak menjamahnya dengan tanpa mengeluarkan komentar miring apapun terhadapnya.
كَانَ إِذَا اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
Kalau beliau menyukainya, maka akan beliau makan. Dan jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Rabu, 10 April 2019

MUDAH TAPI JANGAN DIPERMUDAH, SULIT TAPI JANGAN DIPERSULIT


Istilah ini saya dapat dari almarhum KH. AR. Fachruddin, ketua PP Muhammadiyah terlama, dalam bahasa Jawa. “Islam kuwi gampang ning ojo digampangke. Angel ning ojo di ngel-ngel”. Dalam hal fiqh banyak sekali perbedaan karena fiqh adalah ijtihad ulama. Misalkan posisi tangan saat berdiri shalat: ada yang sedekap, ada yang dijulurkan ke bawah saja. Yang sedekap pun, ada yang didahului dengan mengangkat tangan, ada yang tanpa harus mengangkat tangan.

Kalau dirunut, semuanya ada pedomannya, di Al Quran dan/atau hadits. Terjadi perbedaan dalam praktek karena adanya fiqh ulama yang menguraikan sesuai kondisi setempat. Misalkan qurban di Saudi Arabia adalah unta, di Indonesia boleh dilakukan dengan sapi atau domba.

Jumat, 14 Desember 2018

GENERASI CEPAT TUA DAN AWET TUA


Generasi saya adalah generasi cepat tua. Tumbuh dan dewasa disaat pembangunan sedang digencarkan, hingga ada gelar “Bapak Pembangunan” bagi Presiden Soeharto. Mencurahkan perhatian pada satu bidang, khusyu’, hingga tiba-tiba sekarang merasa harus pensiun. Saat ini banyak yang sedang berfikir mengerjakan apa saat pensiun nanti.

Disisi lain terasa fisik mulai melemah, berbagai penyakit menggerogoti tubuh, rambut semuanya memutih. Teman-teman seangkatan banyak yang keluar masuk ruang praktek dokter untuk konsultasi kesehatan, bahkan ada beberapa yang sudah mendahului menghaap Sang Pencipta. Inilah generasi yang cepat tua dan (maaf) juga cepat mati.

Sabtu, 09 Juni 2018

PONPES BABUSSALAM ‘BENTENG’ UMMAT ISLAM DI BANDUNG UTARA

Kota Bandung nampak indah dipandang dari perbukitan Ciburial, dimana Ponpes Babussalam berada.

Memasuki Bandung dari pintu tol Pasteur, naik jalan layang Pasupati, kemudian belok kiri menyusuri Jl. Ir. H. Juanda, akan membawa kita sampai Pondok Pesantren (Ponpes) Al Quran Babussalam di Ciburial Dago Atas. Bagi yang baru pertama kali berkunjung pastilah akan menjadi sebuah pengalaman berharga dan tidak terlupakan. Kota Bandung dengan ketinggian 791 meter dpl saja sudah meniupkan udara dingin, apalagi kawasan Babussalam yang berketinggian 1.100 meter dpl tentu membuat menggigil.
Namun tak perlu khawatir, ditengah suasana sejuk dingin itu justru terasa nikmat untuk menyerap kedalaman dan luasnya ilmu-ilmu yang disampaikan oleh Pengasuh Pesantren KH. Drs. Muchtar Adam dan para ustadz Babussalam. Apalagi sambil menyantap hidangan tahu hangat produksi masyarakat sekitar Babussalam. “Nikmat Allah yang mana lagi yang engkau dustakan”, meminjam istilah yang Allah ulang-ulang dalam QS. Ar Rahman.
Jika dihitung dari pintu tol Pasteur, perjalanan menuju Babussalam berjarak sekitar 11-12 km. Selepas dari batas kota Bandung jalan menanjak dan berkelok-kelok khas pegunungan sejauh 4 km. Kita akan disuguhi pemandangan menarik. Memandang ke belakang terlihat bangunan rumah-rumah di kota Bandung yang nampak mengecil. Udara dingin mulai merasuk, retsleting jacket harus dieratkan dan kedua belah tangan dimasukkan kedalam saku jacket.

Minggu, 09 Oktober 2016

CARA ALLAH MEMBAGI RIZQI



Pagi itu saya dari Jogja hendak ke Kutoarjo dengan kereta Pramek pukul 06.30 Wib. Rencana dari Kutoarjo terus ke Bandung dengan kereta Kutojaya pukul 09.20.
Dari rumah pukul 05.00 diantar dengan motor oleh anak saya Zaki. Sengaja saya berangkat awal karena belum membeli tiket dan Zaki perlu waktu untuk persiapan sebelum ke sekolah.
Saya berangkat dengan tenang karena persiapan sejak bangun malam. Rasanya semuanya oke-oke saja. Ibu saya tinggalin sedikit uang, Zaki juga, bahkan khusus untuk isi bensin motor pagi itu.
Sepuluh menit dari rumah sampailah saya di stasiun Lempuyangan. Saya masih sempatkan memberikan pesan kepada Zaki sekitar 5 menit karena jadwal kereta masih lama. Setelah itu Zaki pulang meninggalkan saya.

Jumat, 02 September 2016

MENJADI SAKSI PERJUANGAN ANANDA OCI

Kami, yaitu saya dan umi, memberinya nama Raisa Rashifa Mahirah. Raisa kami ambil dari kata Roisun, pemimpin. Sedangkan Rashifa bermakna kuat, dan Mahirah bermakna mahir atau pandai. Sebuah perpaduan nama yang sangat bagus: pemimpin, kuat dan pandai. Nama pendeknya adalah Oci, dari kebiasaan teman-temannya memanggil Rosi.
Saya harus mengakui perkembangan fisik Oci terganggu dengan berbagai penyakit. Saat itu kami belum menjadi herbalis. Oci dengan kakak-kakaknya yaitu Muti dan Syifa boleh dikata saat itu rajin bolak-balik ke puskesmas. Tak heran fisik Oci cukup kecil dan sering sekali flu batuk. Namun rupanya Allah selalu menganugerahkan kekuatan menghadapi kondisi ini, sesuai dengan namanya.